Meidy menoleh ke atas. Seperti biasa, ada Jeidy yang menyapanya.
"Hei, Jei! Nanti habis pulang sekolah, main yuk! Kita main di kamarku ya? Ada banyak boneka lho!" sahut Meidy dengan riang gembira.
Jeidy hanya mengangguk sambil tersenyum. Rambut panjangnya yang berwarna hitam tertiup angin, melambai-lambai, begitu juga ujung gaun putihnya yang panjang.
"Oke, Meidy. Aku tunggu di gerbang." senyum Jeidy. Ia lalu menutup mata, lalu melebarkan sayap putihnya dan terbang. Meidy melambaikan tangan padanya.
**
"Heh! Kalo jalan yg bener dong! Dasar anak autis. Sarap lu!" bentak Vina waktu Meidy tidak sengaja menabraknya saat mereka berpapasan di koridor sekolah.
"Sori, Vin. Aku nggak sengaja." sahut Meidy sambil memunguti buku-bukunya yang terjatuh.
"Sengaja atau nggak, bukan urusan gue. Lu harus nurutin perintah gue!" perintah Vina.
Meidy menengadah dengan heran. "Hah?"
"Jilat sepatu gue. Jilat yang bener." Vina menyorongkan kakinya ke depan wajah Meidy yang sedang berjongkok memunguti bukunya.
Sesaat wajah Meidy tampak kosong tanpa ekspresi, dan dahi nya berkerut. Vina memperhatikannya dan tersenyum puas, lalu menjambak rambut Meidy.
Lalu, tanpa disangka-sangka, ada Jeidy. Jeidy datang.
Meidy merasa kepalanya pusing sekali. Beberapa menit kemudian, ia melihat Vina sedang dipapah menuju UKS sekolah. Ada banyak bekas cakaran di sekujur tubuhnya. Dia juga menjerit-njerit : "Awas lu, Mei! Gila lu! Anak autis!"
Meidy meleletkan lidah, lalu tersenyum pada Jeidy yang terbang di atasnya. "Trims, Jei. Kamu penolongku." bisiknya pelan.
Sesaat kemudian, ada seorang wanita yang datang. Ia memakai jas putih yang rapi dan tersenyum pada Meidy. Ia membawa Meidy ke UKS, dan beberapa saat kemudian semuanya menjadi gelap bagi Meidy.
**
Sejak ada Jeidy, ada perubahan dalam hidup Meidy. Awalnya ia sangat tertutup dan tidak mempunyai teman sama sekali di sekolah. Ia jarang berbicara. Nilai-nilainya sangat buruk, dan semua teman di sekolahnya menjauhinya. Saat ia tidak ada, mereka sering berbisik-bisik dan mengatainya anak autis. Sebenarnya Meidy adalah murid yang cerdas, hanya saja ia tidak mau orang lain tahu. Baginya, itu merupakan beban. Ia sangat membutuhkan perhatian, cinta, & kasih sayang, jadi ia berusaha menarik perhatian dengan berulah. Sayangnya, guru-guru menganggapnya anak 'susah' dan 'tak bisa diatur'.
Orangtuanya bahkan tidak pernah mengurusnya. Mereka bekerja sepanjang hari dan meninggalkan Meidy. Ia memasak, mencuci pakaian, dan mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya sendiri.
Semenjak ada Jeidy, ia tidak lagi kesepian. Jeidy selalu ada untuknya, berbicara, bercakap-cakap, dan bermain dengannya. Jeidy bukan manusia, hanya Meidy yang bisa melihatnya. Jeidy selalu menolongnya, dan tidak mengolok-ngoloknya seperti yang lain-lain.
**
''APA?" mama Meidy terperangah.
"Ya Bu, itu benar. Karena hal itulah kami memanggil Ibu dan Bapak untuk bertemu dengan kami dan membicarakan masalah ini. Silahkan bertanya langsung pada Ibu Teresia, " jelas Mr Martin, kepala sekolah di SMP tempat Meidy menimba ilmu, sambil menunjuk seorang wanita muda di sampingnya. Wanita itulah yang bertemu dengan Meidy kemarin. Badge di jas putihnya bertuliskan Dr. Teresia, S.Psi.
Mama Meidy dan suaminya, Pak Harry, menoleh ke arah Dr. Teresia, meminta kejelasan.
"Ya. Ini termasuk kasus yang langka, kejadiannya mungkin hanya 1 di setiap 50 kasus kepribadian ganda." Dr. Teresia menahan napas. " Meidy berhalusinasi dan menciptakan tokoh pelindung untuknya. Saya telah berbicara dengan alam bawah sadarnya kemarin, sekaligus sebagai sesi terapi. Saya sendiri sangat terkejut ketika mendengar kata-katanya. Dan ekspresinya.. sulit dijelaskan. Matanya kosong.
Ia menamakan tokoh itu Jeidy. Setiap dirinya merasa terancam, Jeidy akan muncul dan menolongnya. Sebenarnya karena memang Jeidy hanyalah tokoh khayalan, ia tidak menolong Meidy. Meidy lah yang menolong dirinya. Saat itu, ada bagian lain dalam pikirannya yang bertindak. Dalam hal ini, Jeidy." Dr. Teresia menjelaskan.
Mama Meidy terhenyak. Ia tidak menyangka kasus ini akan menimpa putrinya.
"Seperti ketika ia merasa terganggu dengan Vina kemarin. Ia merasa marah - sangat marah. Dan karena ia lemah, 'Jeidy' yang bertindak. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia sendiri yang mencakar Vina sampai berdarah.'" sahut Mr Martin.
**
Mereka sedang berada di tepi jurang. Jeidy yang mengajaknya ke situ. Jurang itu telah dipalang, tetapi tetap saja kurang efektif. Jurang itu ada didekat Hutan Woold, tempat banyak kecelakaan mobil terjadi.
"Hanya aku yang menyayangimu, Meidy." cetus Jeidy sambil terbang berputar-putar.
"Ya, aku tahu." Meidy menyahut, dan memainkan batu-batu di pinggir jurang.
"Kau mau pergi bersamaku?" Jeidy terbang ke arah jurang. Ia terbang di celah-celah bebatuan.
"Ya."
Meidy berjalan lurus. Dan pergi.
Tubuhnya melayang.
Melayang..
Jauh..
*